Ternyata tak mudah masuk neraka (Bagian I)

•July 15, 2008 • Leave a Comment

sekejap saja aku terbangun. bukan karena mimpi buruk. keringat ini terasa mengguyur segenap ruang raga. panas betul. atau karena keramaian disekitarku. Kemudian aku terkejut seraya menjerit, kusaksikan sendiri tubuhku bulat tanpa busana sehelaipun. Dan keramaian itupun memang yang juga membuatku terbangun, ramai orang disekitarku. Mereka juga berteriak, karena juga dalam keadaan sepertiku, telanjang.
kepanikanku menjadi sedikit reda, karena aku tak sendirian. tapi semakin lama panas ini serasa memanggang tulang dan jantungku. mungkin seperti matahari berada diatas kepalaku.
kupandang mereka yang terlihat sibuk, entah apa yang mereka sibukkan. atau jangan-jangan aku yang terlambat merasa dalam kesemrawutan itu.
sambil mengipaskan tangan aku berjalan lurus, meski beberapa kali tertabrak dengan orang lain yang sedang berlarian. aq tak membawa jam tangan, sehingga tak sempat menghitung berapa lama berjalan. yang jelas akhirnya kami seolah digiring ke satu tujuan.
Tiba-tiba sesosok pria berjubah putih menyilaukan berbicara dengan lantang, tapi aku tak mengerti apa yang dikatakan. bahasanya sungguh aneh. kucoba menerka beberapa kata yang mungkin bisa kupahami. dan hanya ada dua kata yang bisa kudengar dengan jelas, “mahsar” dan “hisap“. aku masih bingung dengan itu. dan mencoba menerka apa yang sedang dia ucapkan.
kuberanikan diri untuk memulai bertanya disebelahku, seorang wanita. bodohnya aku tak sempat berkenalan dan meminta alamatnya. yang kutanyakan hanyalah keberadaan kita dimana. dengan lembut dia menjawab, “akhirat dik”.
jawaban itu seolah menjadi cambuk petir. sekejap saja kusadar, bahwa aku telah melewati masa hidupku dan tertawa keras dalam kesedihan. Padahal aku belum sempat membuat ibuku tersenyum. Apalagi mempersembahkan cucu kesayangan padanya. tawa itu berubah menjadi penyesalan. tak dapat kupercaya aku telah mati.
Tak lama kemudian, ada bayangan menghampiri dari belakang seolah ingin menikam. ternyata tidak demikian. bayangan itu lenyap dalam waktu singkat. tapi tanpa sepengetahuanku, ternyata tangan kiriku sudah memegang sebuah buku. kuperhatikan buku berwarna hitam kemerahan itu. seranya mengingat sesuatu. oh… aku pernah dengar legenda itu, kuteringat ketika melintas disebuah surau. kudengar seorang kiyai sedang serius berceramah. aku hanya ingat beberapa, karena seumur hidupku aku tak pernah memperhatikan. katanya jika nanti manusia menerima buku laporan akhir dari tangan kiri, maka tidak ada tempat lain selain neraka.
sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin pepatah itu cocok untuk menggambarkan kondisiku saat itu. belum selesai kumenyesal datang berita buruk berupa buku itu. ah sial…
karena tak tahan dengan panas itu. tanpa berpikir lagi aku berbelok ke arah kiri, sesuai dengan petunjuk seperti lampu merah menyala. karena disebelah kanan berwarna hijau, sama dengan buku yang diterima wanita tadi.
sejak saat itu aku baru bisa sedikit membedakan mereka, ternyata rombongan yang searah denganku semua berwajah buruk dan mengenaskan. celakanya lagi aku tak membawa cermin, sehingga tak dapat kupastikan apakah wajahku tetap buruk atau lebih buruk.
seperti melihat sepak bola distadion, ternyata terdapat petugas yang melakukan pengecekan buku yang dibawa, apakah benar mereka semua membawa buku hitam, atau bahkan lebih celaka lagi tak membawa buku.
sambil menunggu antrian yang semakin padat dan desakan. kusempatkan membaca buku itu yang isinya tentang catatan yang tak ubahnya seperti diary. yang berbeda disitu tak tercantum hal-hal yang berbau curhat. isinya pun lengkap dan urut berdasarkan waktu. tidak tebal tapi cukup untuk memuat semuanya.

T.B.C.